Mengungkap 3 Bahaya Anak Belum Diaqiqah: 3 Hal Ini Akan Mengintai Anak yang Belum Diaqiqahi Menurut Islam

Bahaya Anak Belum Diaqiqah – Pada dunia yang penuh dengan berbagai peristiwa dan ujian, keyakinan dan praktik keagamaan sering kali menjadi pegangan yang memberikan ketenangan dan arah bagi individu dan keluarga. Dalam Islam, salah satu praktik yang sangat penting adalah aqiqah, sebuah ritual yang dilakukan oleh orangtua setelah kelahiran anak.

Aqiqah adalah sunnah muakkadah, yang berarti sangat dianjurkan, meskipun bukan wajib. Dalam artikel ini, kita akan membahas mengapa aqiqah memiliki makna mendalam dalam Islam dan mengapa ada tiga bahaya yang mengintai anak yang belum diaqiqahi oleh orangtuanya, menurut pandangan para ulama.

Aqiqah Menurut Pandangan Islam

Sebagai umat Islam, kita sering mendengar tentang pentingnya aqiqah setelah kelahiran seorang anak. Aqiqah adalah tindakan yang dilakukan oleh kedua orangtua sebagai bentuk syukur kepada Allah atas anugerah kelahiran anak mereka. Meskipun aqiqah tidak diwajibkan dalam agama Islam, itu sangat dianjurkan dan memiliki makna mendalam yang sering kali tidak kita pahami sepenuhnya.

Dalam pandangan para ulama Islam, ada tiga bahaya yang mengintai anak yang belum diaqiqahi oleh orangtuanya. Bahaya-bahaya ini menunjukkan pentingnya pelaksanaan aqiqah dalam Islam, dan mengapa kita sebaiknya tidak mengabaikannya.

3 Bahaya Anak Belum Diaqiqah

Bahaya Anak Belum Diaqiqah Pertama: Tidak Dapat Memberikan Syafa’at

Salah satu bahaya anak belum diaqiqah yang dijelaskan oleh para ulama adalah bahwa anak yang belum diaqiqahi tidak akan dapat memberikan syafa’at (pertolongan atau perlindungan) kepada kedua orangtuanya jika mereka meninggal sebelum mencapai usia baligh. Syafa’at adalah salah satu konsep penting dalam Islam, yang mengacu pada pertolongan atau perlindungan yang diberikan kepada individu di akhirat. Anak yang meninggal dalam usia balita memiliki kemampuan untuk memberikan syafa’at kepada kedua orangtuanya, memohon kepada Allah agar mereka dapat masuk surga.

Sebuah hadis yang menguatkan konsep ini menyatakan, “Anak-anak kecil (yang meninggal) menjadi kanak-kanak surga, ditemuinya kedua ibu bapaknya, lalu dipegangnya pakaian ibu bapaknya – sebagaimana saya memegang tepi pakaian ini dan tidak berhenti (memegang pakaian) sampai Allah memasukkannya dan kedua ibu bapaknya kedalam surga.” (HR. Muslim no. 2635).

Dengan demikian, ketika seorang anak belum diaqiqahi, dia akan kehilangan kesempatan untuk memberikan syafa’at kepada kedua orangtuanya jika mereka meninggal sebelum dia mencapai usia baligh. Ini adalah salah satu alasan mengapa aqiqah sangat dianjurkan dalam Islam.

Bahaya Anak Belum Diaqiqah Kedua: Tidak Mendapatkan Keselamatan

Selain ketidakmampuan memberikan syafa’at, ada bahaya anak belum diaqiqah yang lain mengintai anak yang belum diaqiqahi, yaitu ketidakmampuan mendapatkan keselamatan dari mara bahaya kehidupan. Dalam konteks ini, Mula Ali Al-Qari rahimahullah menjelaskan bahwa anak yang belum diaqiqahi “tergadai” dengan aqiqahnya. Ini mengindikasikan bahwa anak tersebut mungkin lebih rentan terhadap berbagai bahaya dan kesulitan dalam hidupnya sampai dia diaqiqahi.

Pernyataan ini menggambarkan betapa pentingnya aqiqah dalam melindungi anak dari berbagai bahaya yang dapat mengancamnya. Aqiqah adalah tindakan yang tidak hanya menjadi bentuk syukur kepada Allah, tetapi juga sebagai upaya untuk memastikan keselamatan anak dalam kehidupannya.

Bahaya Anak Belum Diaqiqah Ketiga: Terkekang oleh Setan

Bahaya anak belum diaqiqah yang dikemukakan oleh para ulama adalah bahwa bayi yang baru lahir ke dunia akan terkekang oleh setan sampai dia diaqiqahi. Ini bukanlah pengertian harfiah, tetapi mengacu pada pengaruh buruk setan yang dapat mengikat anak sejak lahir. Anak tersebut akan berada dalam keadaan terkekang oleh pengaruh negatif setan, dan tali kekang ini tidak akan terlepas sampai dia diaqiqahi.

Imam Ibnul Qoyyim, seorang ulama terkenal dalam Islam, menganggap aqiqah sebagai tebusan untuk membebaskan bayi dari pengaruh setan tersebut. Dengan kata lain, aqiqah adalah cara untuk melindungi anak dari pengaruh buruk setan yang dapat mengganggu perkembangan spiritual dan moralnya.

Kesimpulan

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa aqiqah adalah tindakan yang sangat penting dalam Islam. Meskipun tidak diwajibkan, aqiqah memiliki makna mendalam yang mencakup perlindungan anak dari berbagai bahaya, memberikan kesempatan untuk memberikan syafa’at kepada orangtuanya di akhirat, dan membebaskan anak dari pengaruh buruk setan. Oleh karena itu, aqiqah sebaiknya tidak diabaikan atau dianggap remeh.

Sebagai orangtua, kita memiliki tanggung jawab untuk menjalankan aqiqah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan sebagai bentuk syukur kepada Allah atas anugerah kelahiran anak. Dalam melakukan aqiqah, kita juga memastikan bahwa anak-anak kita dilindungi dan dibimbing menuju kehidupan yang penuh berkah dan keberkatan. Dengan demikian, aqiqah adalah sebuah praktik yang tidak hanya berarti dalam agama, tetapi juga memiliki dampak positif dalam kehidupan anak-anak kita.

FAQ

Apakah aqiqah hanya diperlukan dalam budaya tertentu?

Tidak, aqiqah adalah bagian dari praktik Islam dan tidak terbatas pada budaya tertentu.

Apakah tidak melaksanakan aqiqah akan berdampak negatif pada anak?

Tidak melaksanakan aqiqah tidak akan berdampak negatif, namun pelaksanaannya membawa banyak manfaat.

Apakah aqiqah hanya untuk anak laki-laki?

Aqiqah dapat dilakukan untuk anak laki-laki maupun perempuan.

Kapan sebaiknya aqiqah dilakukan setelah kelahiran anak?

Aqiqah sebaiknya dilakukan beberapa hari setelah kelahiran anak.

Apakah aqiqah hanya melibatkan penyembelihan hewan?

Aqiqah juga bisa dilakukan dengan sumbangan kepada yang membutuhkan.***